Kreativitas warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Cipinang terus disalurkan melalui berbagai wadah positif. Salah satunya ditunjukkan oleh Divisi Teater Bimgiat yang menampilkan pertunjukan drama komedi bertajuk "Opera Anak Penjara: Pengusaha Mencari Jodoh" [00:17]. Pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang dan tempat tidak memadamkan semangat berkarya serta berekspresi [00:37].
Parodi Komedi yang Mengocok Perut
Lakon "Pengusaha Mencari Jodoh" mengusung konsep parodi komedi yang diadaptasi secara jenaka dari dongeng klasik ala Cinderella [01:07]. Cerita berpusat pada seorang pengusaha kaya raya yang berniat mencari pasangan hidup berdasarkan petunjuk gaib dari mimpinya [01:07]. Kriteria jodoh tersebut adalah sosok yang kakinya pas saat mengenakan sebuah sandal jepit khas yang dibawanya [17:05].
Pencarian tersebut membawa sang pengusaha dan pengawalnya ke sebuah rumah yang dihuni oleh seorang anak yang tertindas oleh ibu tirinya [01:54]. Adegan demi adegan diwarnai oleh dialog spontan, celetukan humoris khas warga binaan, serta aksi panggung yang mengocok perut penonton ketika para tokoh mencoba memaksakan kaki mereka agar muat ke dalam sandal jepit tersebut [19:32].
Wadah Penyaluran Bakat dan Keterampilan Seni
Di balik gelak tawa yang dihadirkan, Divisi Teater Bimgiat memiliki peran penting sebagai sarana pembinaan kemandirian dan kepribadian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) [00:37]. Melalui kelompok Opera Anak Penjara, para warga binaan yang memiliki minat maupun yang ingin belajar seni peran diberikan ruang untuk mengolah bakat, mengasah rasa percaya diri, serta melatih kerja sama tim [00:37].
Seni drama menjadi media terapi sosial yang efektif, mengubah energi dan waktu luang di dalam rutan menjadi sebuah karya seni seni yang menghibur sekaligus mengedukasi.
Pesan Reflektif: Menjaga Harapan dan Berbuat Baik
Di penghujung pertunjukan, suasana komedi berubah menjadi momen reflektif yang menyentuh hati [28:23]. Salah satu pemeran menyampaikan pesan motivasi dan ajakan moral bagi seluruh rekan-rekan warga binaan [28:23]:
βJangan pernah menganggap rutan hanya sekadar tempat tahanan, tetapi anggaplah sebagai tempat untuk senantiasa belajar berbuat baik. Seperti halnya mukjizat para nabi yang tidak pernah disangka-sangka, ketika situasi terasa sulit dan ingin menyerah, kita harus tetap percaya dan tahu bagaimana cara bangkit kembali.β [28:23]
Pesan ini menutup pementasan dengan hangat, mengingatkan bahwa di balik jeruji besi, proses pembelajaran hidup dan harapan untuk masa depan yang lebih baik selalu ada [28:23].